Uncategorized

Fakta Unik Kucing Hutan, Tidak Takut Air dan Piawai Berenang

  • Kucing hutan atau kucing kuwuk, merupakan jenis kucing liar yang handal berenang.
  • Kucing kuwuk ini memiliki genus yang sama dengan kucing tandang [Prionailurus planiceps] dan juga kucing bakau [Prionailurus viverrinus] sehingga piawai berenang.
  • Salah satu penelitian di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dijelaskan bahwa kucing hutan dapat berenang melintasi Sungai Cisokan.
  • Di Indonesia, kucing ini termasuk satwa yang dilindungi. Secara internasional, meski statusnya dalam IUCN masih dianggap stabil, namun kucing hutan termasuk dalam Apendiks II CITES, yakni berpotensi terancam punah apabila diperdagangkan tanpa aturan.

Bagi masyarakat umum, kucing dianggap sebagai hewan yang takut basah atau takut air. Namun, banyak yang tak tahu bahwa beberapa jenis kucing liar, ternyata memiliki kemampuan berenang yang baik.

Tentu saja, kucing ini berbeda dengan jenis kucing domestik yang sudah akrab dengan lingkungan manusia. Sedangkan kucing liar, secara umum, perilakunya sangat elusif atau sulit ditemukan karena habitatnya di hutan dan memiliki kecenderungan untuk menghindari manusia.

Secara global, terdapat sekitar 40-an jenis kucing liar dan 11 jenis di antaranya dapat ditemukan di Indonesia serta tersebar spesifik di pulau-pulau tertentu, yakni Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, dua jenis telah punah sehingga menyisakan 9 jenis saja. Mirisnya, kondisi itu sejalan dengan sedikitnya informasi mengenai kucing liar di Indonesia, baik penelitiannya dan juga konservasinya.

Jenis kucing liar yang memiliki kemampuan berenang adalah kucing hutan atau dikenal juga kucing kuwuk. Kucing hutan adalah jenis kucing liar yang paling sering berinteraksi atau bertemu dengan manusia. Dalam Bahasa Inggris sebutannya Sunda Leopard Cat atau Mainland Leopard Cat dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis.

Berdasarkan wawancara sebelumnya dengan Erwin Wiliantofounder Save Indonesian Nature & Threatened Species [SINTAS Indonesia] serta anggota Fishing Cat Conservation Alliance dan anggota Cat Specialist Group – IUCN SSC, dijelaskan bahwa kucing hutan di Indonesia ada dua subspesies; yang dulunya satu yakni Prionailurus bengalensis, lalu dipisahkan.

“Dua sub spesies tersebut adalah Kalimantan dan Sumatera [Prionailurus javanensis sumatranus] dipisahkan dari subspesies yang ada di Jawa [Prionailurus javanensis javanensis],” kata Erwin.

Berdasarkan penjelasan para peneliti di Cat Spesialist Group, secara ekologi dan perilaku, kucing hutan adalah spesies yang hidup menyendiri, tetapi telah teramati berpasangan atau dengan anak yang masih kecil, lalu digambarkan sebagai hewan nokturnal dan krepuskular [peralihan dari siang ke sore]. Namun, ada juga yang mengamati pada siang hari, saat jantan lebih banyak beraktivitas ketimbang betina.

Bahkan, jenis ini menggunakan jelajah lebih luas pada musim hujan dibandingkan kemarau, serta menggunakan hutan serta semak belukar sebagai tempat istirahat dan berkembang biak.

“Kucing ini merupakan pemanjat hebat dan sering terlihat beristirahat di pepohonan. Bahkan spesies ini juga merupakan perenang handal, telah menjajah pulau-pulau lepas pantai di seluruh wilayah jelajahnya,” tulis para peneliti di Cat Spesialist Group.

Penelitian tentang kucing hutan memang sangat sedikit, apalagi terkait kemampuan berenangnya. Salah satu penelitian keberadaan kucing hutan, terkait kotoran dan jejak kaki, menggunakan kamera jebak [camera trap], dilakukan di kawasan hutan non-konservasi Cisokan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat [Jurnal Biodiversitas, 2018].

Dalam penelitian itu, terutama di lokasi Pasar Bedil dan Cirumanis, peneliti menemukan feses kucing hutan. Pasir Bedil dan Cirumanis sendiri dipisahkan oleh Sungai Cisokan, namun menurut peneliti kucing hutan dapat berenang melintasi Sungai Cisokan.

Terkait kemampuan berenang ini, mengutip dari sciencedirect, dapat dilihat pada ciri-ciri fisik genus Prionailurus yang memiliki punggung melengkung dengan tungkai pendek; sebagian telapak kaki dan kukunya, dapat ditarik sebagai adaptasi terhadap lingkungan semi akuatik tempat tinggalnya dan karena pola makannya yang banyak memakan ikan.

“Sehingga tak heran jika kucing hutan adalah perenang dan penyelam yang sangat baik, karena sering mengunjungi hutan rawa dengan hutan bakau atau vegetasi lebat di tepi sungai dan cekungan air,” tulis peneliti sebagaimana dikutip dari sciencedirect.

Kucing hutan sendiri memiliki genus yang sama dengan kucing tandang (Prionailurus planiceps) dan juga kucing bakau [Prionailurus viverrinus] yang dikenal sebagai spesialis lahan basah. Maka tak heran, kucing hutan atau kucing kuwuk juga memiliki kemampuan handal ketika berenang, tak kalah dengan kucing bakau dan kucing tandang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *